Wednesday, July 25, 2012

Komunitas adat Wetu Telu di Lombok merayakan Lebaran Adat

Oleh: RM Panca Nugraha

MESKI sudah merayakan Idul Fitri 1432 Hijriyah, sesuai jadwal nasional Rabu (31/8) pekan lalu, namun  masyarakat adat penganut Wetu Telu di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Sabtu (3/9) merayakan lebaran adat, tepat tiga hari setelah hari raya Idul Fitri dipusatkan di masjid kuno Bayan Beleq, sekitar 98 KM dari Kota Mataram, ibukota NTB. Selain sebagai ungkapan kesyukuran, lebaran adat juga menjadi ajang silahturahmi antar komunitas adat di Bayan dan dari wilayah lain di pulau Lombok.
1315140481228893901

Para kyai adat mendatangi masjid kuno Bayan Beleq, sebelum puncak lebaran adat.

Sejak Sabtu pagi (3/9) masyarakat adat dan para kyai adat berdatangan ke masjid kuno Bayan Beleq untuk pelaksanaan shalat ied adat. Para kyai mengenakan kain tenun, baju putih, dan sapuk (kain penutup kepala) yang juga berwarna putih. 44 orang kyai adat Wetu Telu itu, terdiri dari empat orang kyai kagungan dan 40 orang kyai santri.

Empat orang kyai kagungan itu meliputi kyai penghulu yang bertindak sebagai imam dalam shalat, kyai ketib yang bertindak sebagai khotib, kyai lebei yang bertindak sebagai bilal pengumandang adzan, dan kyai modin yang bertindak sebagai merbot dan bertanggung jawab terhadap kebersihan masjid.

Sholat ied adat, di masjid kuno Bayan Beleq baru terlaksana sekitar pukul 11.30 Wita, setelah semua dari 44 kyai lengkap hadir. Sholat dipimpin kyai kagungan penghulu, Amaq Jitrasih (56), yang bertindak sebagai imam sholat.
Setelah sholat Ied, kyai ketib, Amaq Iras Anom (50) duduk di atas mimbar dan menyampaikan khotbah yang diambil dari lelontaran adat berbentuk gulungan kertas panjang beraksara arab. Pesan yang disampaikan antara lain tentang pengucapan syukur, keselarasan hidup dengan alam, dan budi pekerti. Usai sholat dan khotbah, para kyai kemudian saling bersalaman sambil mengucapkan asma Allah saat tangan mereka bertemu satu-sama lainnya.

Sedikit berbeda dengan lebaran adat tahun lalu, kali ini sejumlah masyarakat adat dari Mapak - Kota Mataram, dan Sembalun – Lombok Timur, juga hadir ke masjid kuno. Hanya saja, saat shalat ied adat berlangsung mereka menunggu di luar masjid, karena yang sholat hanya 44 kyiai adat saja.

”Ini acara adat, bukan agama, karena Wetu Telu juga bukan agama. Kami sebut dengan ngiring sareat lebaran tinggi. Ada juga yang menyebut lebaran adat. Maknanya bahwa adat ini memperkuat agama,” kata Raden Gedarip (69), tetua adat komunitas Wetu Telu di Kecamatan Bayan.

Menurut Gedarip, perayaan lebaran adat sudah dilakukan penganut Wetu Telu sejak dulu kala, menjadi kebiasaan turun temurun yang akan pemaliq (menimbulkan hal yang kurang baik) jika tidak dilaksanakan.
Malam sebelum puncak lebaran adat ini, masyarakat adat juga membawa zakat sedekah urip dan sedekah pati berupa hasil bumi, beras, sayur mayur, dan juga buah-buahan ke masjid kuno. Sedekah yang dibawa kemudian dibagikan oleh para kyai adat kepada masyarakat yang berhak menerima.

Layaknya acara syukuran, usai sholat ied di masjid kuno berlangsung, masyarakat di tiap dusun penganut Wetu Telu menyiapkan periapan atau mempersiapkan makanan untuk hajatan. Itu dilakukan di kampu atau sebuah lokasi tertentu yang di lingkari pagar bambu di dusun masing-masing.

Saat makanan ancak sudah siap, para lelaki membawanya ke masjid kuno untuk menghaturkan santapan bagi para kyai. Para kyai menyantap hidangan ancak di dalam masjid kuno.

Setelah mengantar ancak ke masjid kuno, di setiap dusun, periapan juga dilaksanakan di berugak agung bale beleq dan di kampu yang dipimpin masing-masing pemangku adat. Masyarakat menikmati hidangan dengan cara begibung, satu ancak dimakan bersama-sama antara empat sampai enam orang.
”Bagi kami ini merupakan ajang silahturahmi antar sesama masyarakat adat,” kata Sukalim (35), warga komunitas adat wetu telu dari Mapak, Kota Mataram.

Masyarakat Bayan percaya bahwa masjid kuno Bayan Beleq merupakan masjid tertua di Lombok sekaligus penanda masuknya Islam pertama kali di pulau ini. Luas areal kompleks masjid sekitar 1 Hektare, di dalamnya ada dua kompleks makam besar, selain bangunan masjid sendiri. Kompleks makam itu dipercaya sebagai makam pendiri masjid, termasuk makam salah seorang dari sembilan wali (Wali Songo) penyebar Islam di Nusantara.
Bangunan masjid terbuat dari bahan kayu dan bambu, luasnya 10 x 10 meter, berlantai tanah. Di dalamnya terdapat sebuah bedug besar sepanjang 1,5 meter dengan diamater sekitar 80 cm, tergantung tepat di tengah masjid. Sebuah mimbar kayu juga ada di sana di samping tempat imam, di atas mimbar ada ukiran berbentuk seperti gabungan ikan dan burung berkepala naga.

Keteguhan masyarakat adat Wetu Telu melestarikan adat patut ditiru. Cukup banyak masyarakat asli di sana yang merantau ke luar daerah, namun selalu berusaha kembali pulang ketika upacara-upacara adat dilakukan, demi melestarikan adat. Beberapa perkampungan mereka juga masih memegang adat dan bertahan hidup secara tradisional. Antara lain di Desa Bayan, Desa Senaru, Desa Loloan, Desa Segenter, dan Desa Karang Bajo.
1315140852402696700

Iring-iringan masyarakat adat mengantarkan sedekah urip dan sedekah pati ke masjid kuno Bayan Beleq, malam sebelum puncak lebaran adat.

Raden Gedarip mengatakan, selama ini banyak salah persepsi tentang adat Wetu Telu. Opini yang terbentuk akhirnya menggambarkan bahwa Wetu Telu adalah agama Islam yang belum tuntas diajarkan, dan masih mengasopsi ajaran agama Hindu. Misalnya sholat hanya tiga kali, berpuasa hanya tiga kali di hari pertama, pertengahan, dan penutup. Ada juga yang menyebut penganut Wetu Telu hanya menjalankan tiga rukun iman dalam Islam, kecuali shalat lima waktu dan naik haji.

“Itu semua persepsi yang salah. Banyak pemangku adat kami yang naik haji, dan shalat kami lima kali sehari. Banyak juga masyarakat adat Wetu Telu yang menjadi pimpinan di kantor pemerintahan daerah,” kata Raden Gedarip.

Menurut Gedarip, Wetu Telu bukan agama, tetapi pandangan hidup yang ditinggalkan leluhur mereka. Wetu berarti batasan wilayah, sedangkan Telu berarti tiga.

Dari sisi kehidupan, masyarakat adat Wetu Telu diharuskan menjaga keselarasan dan keseimbangan hidup antar mahluk yang diciptakan Allah melalui tiga jalan yakni Memanak (beranak), Menteluk (bertelur), dan mentiu (bertumbuh).

Manusia dan hewan mamalia dilahirkan dari proses beranak-pinak, unggas dan hewan melata tercipta dari telur, sedangkan tumbuhan dari biji-bijian yang ditanam dan bertumbuh. Ketiganya harus selaras dan seimbang. Makna filosofinya, manusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan karena akan merusak tumbuhan dan juga habitat hewan.

Dari sisi tatanan sosial, masyarakat ada Wetu Telu menghormati tiga unsur kepemimpinan, yakni pengusungan (dari unsur pemerintah seperti Kades), pemangku (dari unsur adat istiadat), dan penghulu (dari unsur Keagamaan). Ketiganya memiliki tanggungjawab sosial terhadap masyarakatnya.
Dari sisi letak geografis tempat tinggal, masyarakat adat Wetu Telu membagi tiga wilayah yang harus dijaga kelestariannya, yakni wilayah Gunung dan Hutan untuk penduduk di perkampungan yang dekat dengan kaki gunung Rinjani, wilayah pertanian untuk perkampungan di dataran tengah, dan wilayah laut untuk perkampungan yang dekat pesisir.

“Misalnya untuk wilayah laut, kami tidak pernah menangkap ikan menggunakan potasium atau bom ikan, itu dilarang secara adat karena akan merusak keseimbangan,” katanya.

Tapi tidak cukup banyak yang bisa diceritakan Gedarip tentang Wetu Telu, “Ada beberapa hal yang kami ketahui tetapi tak bisa kami ungkapkan karena memang secara turun temurun dari leluhur, hal itu hanya kami saja yang boleh tahu. Kalau diceritakan ke orang lain bisa pemaliq,”.

Untuk keislaman, masyarakat adat Wetu Telu percaya bahwa leluhur merekalah yang pertama kali menerima ajaran Islam di Pulau Lombok, yang dibawa Wali Songo pada abad ke 17 Masehi. Masjid kuno Bayan Beleq adalah bukti sejarahnya yang sampai sekarang tetap berdiri di Desa Bayan.
Mereka percaya, Datu Bayan (Raja Bayan) adalah orang pertama yang diislamkan di Lombok, disusul oleh para pemangku adat dan masyarakat adat Bayan.

“Setiap lebaran Idul Fitri masyarakat kami juga melaksanakan shalat Ied di masjid umum, karena kami juga merayakan lebaran agama itu. Dan karena adat yang harus dilestarikan, kami juga merayakan lebaran adat. Tapi jangan dicampur adukkan antara agama dan adat, kami pun tidak mencampur adukkannya. Agama ya agama, adat ya adat,” katanya.

Secara sederhana Gedarip menggambarkan itu ibarat orang menikah, prosesi agama ijab kabul dilakukan di masjid atau KUA, sementara sesudahnya prosesi adat pun dilakukan menyusul, yakni nyongkolan atau sorong serah.

Petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purba Kala wilayah Bali, NTB dan NTT, Raden Pulasari mengatakan, kegiatan adat di masjid kuno Bayan Beleq yang masih lestari juga membuat kondisi masjid kuno yang sudah ratusan tahun ini tetap utuh terjaga.

”Masjid tertua ini sudah dijadikan benda cagar budaya sejak 1992 silam. Catatan otentik kapan berdirinya memang tidak ditemukan, tapi dipercaya masjid ini dibangun pada awal abad 17 silam,”katanya.***

Retrieved from: http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/04/komunitas-adat-wetu-telu-di-lombok-merayakan-lebaran-adat/

No comments:

Post a Comment