Wednesday, July 28, 2010

Mencari yang Autentik

Oleh : Dr. HAEDAR NASHIR

SEJARAH manusia dimulai dengan pertumpahan darah ketika dorongan ambisi dan iri hati tumpah ke segala arah mengalahkan jiwa yang bersih. Qabil mengawali tragedi klasik itu ketika membunuh saudara kembarnya, Habil, yang memutus matarantai generasi terbaik Adam alaihissalam di muka bumi.

Tragedi Qabil dan Habil ini membenarkan sebagian tafsir tentang watak anak cucu Adam yang bernama manusia sebagaimana dicemaskan malaikat, yang suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, ketika Allah memaklumatkan untuk menjadikan khalifah di muka bumi. Allah mengabadikan kisah buram Bani Adam ini dalam Al-Quran ayat ke 27, 29, 30, dan 31 Surat Al-Maidah sebagai ibrah bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.

Dengki dan ambisi Qabil bergelora menyaksikan saudara kembarnya memperoleh pasangan yang cantik dan sukses bekerja sebagai pemerah susu sapi, sehingga membangkitkan naluri primitifnya untuk melenyapkan karier hidup saudara kembarnya sendiri. Hawa nafsu Qabil telah mendorong dirinya begitu mudah membunuh, demikian penegasan Tuhan dalam Al-Quran (QS 5: 30).

Nafsu fuzara ( jahat ) telah mengalahkan jiwa muttaqa ( baik ). Nafsu yang tidak siap berkompetisi secara sehat menyaksikan saudaranya menggapai keberuntungan sehingga harus dipotongnya dengan cara biadab. Dari tragedi Qabil itulah lahir inspirasi paling klasik dan primitif tentang sebuah model perilaku menghalalkan segala cara demi meraih tujuan dalam pergumulan hidup anak cucu Adam sepanjang zaman di persada dunia ini.

Keberagamaan autentik

Tuhan sungguh memuliakan anak cucu Adam. Karena itu, Adam dan generasi keturunannya diberi amanat untuk menjadi khalafah di muka bumi. Manusia pun berbeda dari binatang dan makhluk Tuhan yang lain, diberi anugerah rohani dan akal pikiran agar pandai menimbang-nimbang segala perilaku dan tindakannya. Allah bahkan Mahakasih Sayang kepada manusia sehingga diturunkan Rasul dan Kitab Suci untuk membimbingnya ke jalan yang benar dan tidak terperosok pada jalan sesat. Tapi, manusia sering menyia-nyiakan Rahman-Rahim dan anugerah Tuhan itu, lalu terperosok pada tindakan-tindakan nista.

Karena itu, diperlukan ikhtiar terus-menerus untuk membangkitkan kembali dua fitrah terpenting dalam diri manusia itu, agar tidak liar seperti perilaku Qabil. Pertama, fitrah yang melekat dalam diri manusia, yakni al-qalbu al-salim ( hati yang autentik ) yang diberikan manusia sejak awal ( fitrah maqbulah ). Fitrah yang kedua ialah Kitab Suci sebagai fitrah yang diturunkan Tuhan melalui Nabi ( fitrah munajalah ) selaku pedoman hidup manusia. Keduanya harus dirawat dan ditumbuhsuburkan sehingga selalu menjadi pelita hidup yang mencerahkan. Jangan biarkan hidup meluap hanya dengan dorongan-dorongan primitif yang liar ke segala arah.

Bawalah agama pada setiap langkah dan pengambilan keputusan hidup. Agama jangan dibawa hanya ketika selaras dengan kepentingan, sementara ketika tak sejalan kemudian ditinggalkan. Agama bukan hanya urusan ilmu pengetahuan, tetapi tak kalah pentingnya adalah keyakinan dan tindakan. Tidak sedikit orang yang ilmu agamanya paripurna plus segala atribut gelar dan kehormatan, tetapi laku dan langkahnya jauh panggang dari api. Lisan berkata indah tentang nilai-nilai agama, tetapi perbuatan tak menggambarkan keberagamaan yang autentik. Inilah bentuk sekularisme terselubung. Bryan R Wilson telah lama meyakini bahwa sesungguhnya sekularisme yang mutlak itu tidak pernah ada dan agama di negeri-negeri sekuler sekalipun tetap hidup sebagai pilihan. Weber menyuarakan etika Protestan sebagai bentuk inspirasi agama dalam perkembangan kapitalisme, yang mengandung pengakuan akan fungsi agama bagi kehidupan modern. Islam pun kini mekar di negeri-negeri Barat, yang menunjukkan antitesis sekularisme.

Namun, ada peringatan dini dari Naisbitt. Melalui Megatrends 2000 Naisbitt mengingatkan tentang hadirnya spiritualitas agama yang melampaui formalisme agama. Bahwa di alam modern dan kehidupan dunia yang semakin kompleks saat ini diperlukan fungsi agama yang masuk ke jantung hati manusia, bukan sekadar melekat di kulit luar. Agama yang hadir secara substantif, yang dapat menjiwai denyut nadi kehidupan, sekaligus melahirkan model perilaku yang autentik dan utama. Bukan yang manis di bibir dan retorika, tetapi miskin rohani dan tindakan.

Rohani autentik

Ketika manusia berperilaku buruk dan jahat, sesungguhnya tindakan itu mengoyak fitrahnya yang autentik. Manusia itu pada dasarnya makhluk yang utuh dan mulia, lebih-lebih bagi orang beriman. Tapi, sering memerosokkan dirinya pada kehinaan hingga jatuh diri, fi-asfala safilin. Sabda Nabi, dalam diri manusia itu terdapat segumpal darah, apabila gumpalan itu dibersihkan maka bersihlah seluruhnya, sebaliknya manakala kotor maka kotorlah seluruh dirinya, itulah kalbu atau hati-nurani.

Kalbu manusia pada dasarnya juga bersih, bahkan mengandung potensi fitrah yang bening dalam sinar ke-Ilahian. Namun, sering karena berbagai situasi dan gelora nafsu yang tak terbendung, akhirnya kebeningan kalbu dikalahkan oleh seribu satu ambisi hawa nafsu sehingga manusia terperosok pada tindakan-tindakan anarkis dalam hidupnya. Manusia menjadi tidak manusiawi lagi. Manusia menjadi kehilangan autentisitas diri dan fitrahnya. Akhirnya, terjadi paradoks dalam perilaku manusia.

Formal beragama, berilmu agama, dan bernurani tetapi substansial kehilangan makna dan fungsi yang sublim atau bening. Kalbu atau hati nurani yang hidup sekadar berornamen luar laksana spiritualitas kembang api, tetapi menusuk ke jantung terdalam pada nurani yang autentik. Lahiriah bicara fasih tetang kebaikan, tetapi praktiknya jauh panggang dari api. Lisan indah berkata-kata tentang ikhlas dan ihsan, tetapi tindakan penuh kalkulasi matematika duniawi. Retorika agama melambung hingga ke angkasa raya, sementara bumi tempat berpijak kering makna hakiki karena demikian meluapnya orientasi hidup serba indrawi. Lalu, agama dan iman pun kehilangan kecerdasan rohaniahnya yang paling autentik atau fitri.

Karena itu, rohani beragama tampaknya penting untuk dicerdaskan dan dicerahkan kembali. Rohani yang cerdas tidak memancarkan spiritualitas kembang api, tetapi melahirkan kekayaan perilaku yang mempraktikkan kebaikan, kebenaran, dan keutamaan yang nyata. Menyisihkan duri di jalan, sabda Nabi, adalah bentuk dari iman. Bukan malah menyebarluaskan duri di sepanjang jalan kehidupan. Duri bukan sekadar fisik, tetapi dapat bermakna simbolis sebagai segala bentuk laku dan tindakan yang merusak tatanan kehidupan. Korupsi, menindas, menghalalkan segala cara, dan segala bentuk perilaku buruk adalah duri bagi kehidupan yang berlawanan dengan rohani yang fitri.

Rohani yang cerdas dan cerah memberi inspirasi pada otak, intelektualitas, dan psikomotor untuk berbuat ihsan kepada sesama. Ihsan yang fitri, yang tidak kulit luar dan dibuat-buat. Ihsan yang melahirkan amal saleh dan amal sahih, yang tidak berhenti di lisan dan retorika. Ihsan yang memancarkan perilaku baik, tulus, jujur, terpercaya, kata sejalan tindakan, halus budi, berkarakter kuat, peduli, dan berbagai tindakan ma’ruf dalam hidup. Bukan perilaku yang nifaq, lain di mulut lain di laku, kasar, buruk sangka, iri, dendam, menghalalkan segala cara, dan berbagai tindakan munkar dalam hidup.

Rohani yang cerdas dan cerah tidak membiarkan otak dan tindakan liar, yang oleh Allah disebut berperilaku hewaniah yang sesat. Rohani yang melahirkan kelembutan dan kedamaian, bukan kekerasan. Rohani yang toleran terhadap perbedaan, dengan tetap merawat iman dan prinsip hidup. Rohani yang melahirkan jalan lurus, yang ingin meraih sukses tanpa harus bertindak zalim terhadap sesama.•••

ØØØ

Dari : Refleksi Republika, Ahad, 25 Juli 2010

Monday, July 19, 2010

Studi Islam, Kristen dan Orientalisme di Negeri Barat

(Wawancara majalah Islamia dengan Dr. Syamsuddin Arif)


Mengapa Anda merasa perlu belajar Islam ke Barat?

Saya punya beberapa alasan. Pertama, selama ini banyak kalangan beranggapan studi Islam di Barat lebih unggul dibanding Timur Tengah, terutama dalam hal metodologi. Nah, saya ingin membuktikan sendiri sejauh mana kebenaran asumsi tersebut. Apakah itu sekedar mitos, atau kenyataan. Kedua, saya juga ingin membuktikan apakah benar yang sering dikatakan selama ini, bahwa orientalis mengkaji Islam untuk menghancurkannya. Nah, agar tidak dituduh bersikap a priori oleh para pendukung orientalis, saya merasa perlu mempunyai pengalaman sendiri, ‘first-hand experience’, bahwa saya pernah belajar sama orientalis. Ini penting, agar tidak kena kata pepatah “man jahila syay’an ‘âdâhu”, orang yang belum mengenal sesuatu cenderung memusuhinya. Terakhir, untuk legitimasi dan otoritas. Sebab, diakui atau tidak, bangsa kita masih percaya kalau ‘jebolan’ luar negeri, apalagi Amerika atau Eropa, maka lebih faham, lebih menguasai, lebih qualified ketimbang lulusan dalam negeri atau lulusan Timur Tengah. Karena itu, menurut saya, ada untungnya kalau kita pernah studi di Barat, terutama ketika menghadapi para pengagum Barat yang arogan dan merasa ‘superior’. Seperti kata hadis, sombong kepada orang sombong adalah sedekah.


Apa sih sebenarnya yang Anda pelajari di sana?

Rencana semula saya mau belajar paleografi dan filologi, khususnya yang berkaitan dengan tehnik dan seluk-beluk penyuntingan manuskrip, Handschriftkunde istilahnya. Sekaligus mempelajari metodologi riset orientalis. Untuk itu saya rencana mau mengedit kitab Abkâr al-Afkâr karya Sayfuddin al-Amidi, yang juga pengarang kitab al-Ihkâm fi Ushûli l-Ahkâm. Jadi, dirâsah wa tahqîq, gitu lah. Sebagian besar manuskripnya sudah saya teliti waktu di Istanbul. Namun rencana tersebut berubah, karena belakangan saya dapat info, ternyata kitab tersebut sudah diterbitkan di Kairo. Akhirnya saya memutuskan untuk mengkaji satu bagian saja dari kitab tersebut, yakni Qa’dah ke-4, seputar masalah-masalah teologi. Saya beruntung, karena pembimbing saya, Professor Hans Daiber, tidak banyak ‘cing-cong’ soal topik dan judul yang saya pilih.



Anda belajar dengan orientalis. Apa tidak terpengaruh?

Pengaruh apa dulu? Kalau yang Anda maksud pengaruh positif, seperti keseriusan dan ketelitian dalam mengkaji suatu masalah, justru saya harapkan. Tapi kalau pengaruh negatif, seperti sikap arogan, double-standard, pedantik, reduksionistik, biased dan lain sebagainya yang melatarbelakangi berbagai asumsi dan pendapat mereka, tentu saya berharap tidak. Memang tidak sedikit yang terpengaruh, bahkan mengusung dan menyebarkan pikiran-pikiran dan gagasan mereka setelah kembali ke tanah air. Contohnya cukup banyak. Namun yang ‘kebal’ terhadap ‘virus’ mereka pun banyak juga. Misalnya, Syaikh Abdul Halim Mahmud lulusan Sorbonne, Muhammad Mustafa al-A’zami lulusan Cambridge, atau Syed Muhammad Naquib al-Attas lulusan London. Mereka ini justru sangat kritis terhadap tulisan dan pandangan orientalis. Jadi, sebenarnya masalah terpengaruh atau tidak, menurut saya, tergantung orangnya. Kalau kita ‘ignorant’, tidak mengerti tentang agama kita sendiri dan buta akan tradisi intelektual kita, apalagi kalau sudah mengidap penyakit ‘inferiority complex’ alias minder, tentu mudah sekali terpukau dan terpengaruh oleh hasil kajian mereka. Ulâ’ika alladzîna isytrawû dh-dhalâlata bi l-hudâ. Pendek kata, jangan sampai seperti istrinya Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh tukang sihir.





Menurut pengamatan Anda, bagaimana kondisi kajian Islam/orientalis di sana?

Kalau di Barat secara umum, yakni Eropa, orientalisme dalam arti kata kajian terhadap kebudayaan dan peradaban Timur telah bermula ribuan tahun yang lalu, paling tidak semenjak terjadi kontak dan interaksi antara orang-orang Yunani (Greek) dengan orang Mesir kuno, Babylonia dan Persia. Di abad Pertengahan, orientalisme adalah upaya mempelajari karya-karya ilmuwan Islam. Ex Oriente Lux, kata mereka: Cahaya berasal dari Timur. Lalu sejak zaman Renaissance, orientalisme meluas skupnya, tapi menyempit tujuannya. Sejak itu yang mereka pelajari tidak hanya bahasa, agama dan peradaban Mesir kuno, Parsi, Zoroaster, Arab dan Islam (yang mereka namakan Timur Dekat), tapi juga bahasa dan peradaban India dan Cina (yang mereka sebut Timur Jauh) dengan agama Hindu dan Buddha-nya. Namun motif dan tujuannya menyempit: sebagai alat dan senjata untuk menjajah, menguasai dan mempengaruhi objeknya, yakni bangsa dan peradaban Timur. Slogan mereka tersimpul dalam 3 G: gold, god and glory. Jadi ada motif ekonomi, politik, dan agama di situ. Maka lahirlah orang-orang semacam Snouck Hurgronje, Goldziher, Noeldeke, Caetani, Zwemmer, Torrey, Lammens, Schacht, Wansbrough, Jeffery dan Luxenberg. Mereka ‘take and give’ dengan penguasa dan gereja. Saya yakin sampai sekarang pun motif-motif semacam itu masih ada, kalau bukan justru dipelihara, meskipun manifestasinya tidak se‘vulgar’ dulu. Belakangan cara mereka lebih halus. Contohnya karya Gerald Elmore, The Concept of Sainthood in the Fullness of Time, terbitan E. J. Brill, Leiden. Buku ini penampilannya luar dalam ‘wah’, tetapi isinya beracun. Pembaca digiring pada kesimpulan bahwa Ibnu Arabi sebenarnya adalah pengikut Yesus. Buku ini berasal dari disertasinya dibawah supervisi Gerhard Boewering di Yale University, salah satu pusat kajian orientalis terkemuka di Barat saat ini. Ini cuma satu contoh kasus. Ada banyak Elmore, Brill, Boewering dan Yale-yale lain yang masih dan akan terus aktif melakukan hal serupa, baik di Amerika, Eropa maupun Australia. Di Jerman sendiri pusat-pusat kajian Islam terus berjalan dan berkembang, di bawah naungan universitas dengan nama macam-macam: bisa Semitistik, Orientalistik, Arabistik, ataupun Islamwissenschaft. Namun yang ditekankan sama, yaitu penguasaan bahasa-bahasa utama seperti Arab, Parsi, Turki, Hebrew dan Syriac. Ini penting, menurut mereka, agar bisa mengkaji literatur langsung dari sumber aslinya.




Bagaimana ISTAC dibandingkan dengan pusat-pusat kajian Islam yang ada di Barat?

Saya melihat ada beberapa kesamaan dan perbedaan antara ISTAC dengan pusat-pusat kajian Islam di Barat. Kesamaannya antara lain terletak pada penekanan terhadap penguasaan bahasa. Di ISTAC semua mahasiswa wajib mempelajari dan menguasai minimal dua bahasa, Arab dan Parsi, yang ditawarkan setiap semester, plus bahasa-bahasa Eropa selain Inggris, seperti Greek, Latin, Perancis dan Jerman. Kedua, terletak pada pengadaan fasilitas riset yang memadai, terutama perpustakaan yang merupakan jantung setiap lembaga pendidikan tinggi. Dalam bidang kajian pemikiran dan peradaban Islam, Barat dan Timur, koleksi perpustakaan ISTAC boleh dikata adalah yang paling lengkap di Asia Tenggara. Adapun perbedaannya terletak pada misi dan kurrikulumnya. Kalau studi Islam di Barat misinya sudah jelas, untuk mempertahankan hegemoni intelektual mereka. Sementara misi ISTAC adalah untuk membangun kembali peradaban Islam dan jatidiri Umat Islam yang porak-poranda akibat hegemoni Barat. Dan ini tercermin dalam kurikulumnya yang unik, dimana mata-kuliah yang ditawarkan dikelompokkan dalam tiga bagian: Islamic Thought, Islamic Science dan Islamic Civilization. Dengan begitu mahasiswa ISTAC diarahkan dan dibentuk untuk menjadi ilmuwan yang mampu melihat dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.



Apa yang Anda dapat belajar dengan al-Attas di ISTAC dan belajar dengan Daiber di Jerman?

Saya belajar banyak dari Profesor al-Attas. Beliau termasuk intelektual Muslim kelas dunia yang sangat prihatin terhadap kondisi Umat Islam saat ini. Berbeda dengan kebanyakan cendekiawan lainnya, al-Attas dikenal sangat berani dan konsisten. Pemikirannya jelas dan sistematis. Beliau tidak pernah tunduk pada orientalis, Yahudi maupun Kristen. Tidak mau kompromi dalam masalah-masalah usuluddin. Sangat kritis terhadap pandangan-pandangan sekuler dan liberal. Tetapi secara personal sikapnya terbuka dan toleran. Kalau dari Daiber yang patut diteladani adalah keseriusan dan ketelitiannya. Saya juga terkesan dengan sikapnya yang ramah dan murah-hati. Tetapi dalam soal pemikiran, Daiber tidak bisa diikuti. Sikap intelektualnya cenderung skeptis. Jadi, kalau didesak bagaimana pendapatnya tentang suatu masalah, dia tidak mau mengambil posisi, giving no commitment. Sikap semacam inilah yang dikecam al-Attas. Menurut beliau, seorang intelektual harus punya pendirian, tidak boleh skeptis, harus jelas sikapnya, tidak boleh mengambang, dan harus konsisten, tidak boleh plintat-plintut.

Bagaimana sikap orang Barat dan Jerman khususnya terhadap agama mereka?

Secara umum sikap masyarakat Barat modern terhadap agama cenderung apatis, masa bodoh dan tidak peduli. Semakin banyak yang bersikap skeptis dan agnostis terhadap doktrin-doktrin agama. Efeknya makin sedikit yang betul-betul mengamalkan ajaran agamanya. Sebaliknya, makin banyak yang memilih keluar atau bahkan menjadi atheis. Namun kemudian mereka merasakan ada sesuatu yang hilang. Mereka yang putus asa, merasa life is meaningless, memilih jalan pintas bunuh diri. Mereka yang bertahan, berusaha mengisi kekosongan jiwanya dengan cara masuk agama lain seperti Islam, ikut pseudo-agama dan aliran-aliran sempalan seperti Theosophy, Anthroposophy, Baha’i, atau pun praktek-praktek meditasi spiritual seperti Brahma Kumaris, Ananda Marga, Sahaya Yoga dan lain sebagainya. Sebagaimana kata ahli sosiologi agama Peter L. Berger, trendnya sekarang ini adalah setiap orang akan memilih sendiri apa yang ia inginkan, sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya. Istilah sosiologinya: patchwork religion, agama bikinan sendiri, hasil ‘comot’ sana-sini.



Fenomena semacam itu juga terjadi di Jerman. Menurut data REMID (Religionswissenschaftlicher Medien- und Informationsdienst e.V), dua per tiga penduduk Jerman adalah penganut Kristen, dengan komposisi Katolik kurang lebih 26,6 juta dan Protestan 26,3 juta orang. Tetapi dari jumlah ini, hanya 12% yang mempercayai doktrin trinitas, dan cuma sekitar 10% yang aktif dan rutin ke gereja. Pada tahun 1988, hampir separuh pejabat pemerintah Jerman menolak bersumpah dengan nama Tuhan. Mereka enggan mengucapkan “so wahr mir Gott helfe”. Menurut jajak pendapat yang dilakukan McKinsey baru-baru ini, kredibilitas gereja di Jerman merosot drastis. Setiap tahun, gereja kehilangan rata-rata 300.000 anggotanya. Juga semakin banyak yang menolak bayar sumbangan wajib untuk gereja melalui potongan gaji per bulan 8% hingga 10%. Seorang karyawan yang tidak ingin disebut namanya, misalnya bilang, dia bayar ke gereja setiap bulan tidak kurang dari 100 Euro. Kalau dikalikan dengan 53 juta orang, berati dana yang masuk ke gereja bisa mencapai 5,3 Milyar Euro (sama dengan 53 Trilyun Rupiah!). Mengapa meninggalkan gereja? Jawaban yang dilontarkan orang Jerman adalah: “Viele sind vom Christentum enttaeuscht” (Banyak yang kecewa dengan Kristen), “Religion und Kirche sind zwei verschiedene Dinge” (Agama dan gereja adalah dua hal yang berlainan, maksudnya harus dipisahkan), “Das Problem der Kirchen ist, dass sie schon lange keines mehr sind” (Masalahnya adalah gereja sudah lama tidak punya arti apa-apa lagi). Situasi konkritnya digambarkan oleh Heiner Koch, salah seorang pengurus gereja di Koln: “Banyak orang di Jerman sekarang ini menyamakan gereja dengan toko atau supermarket. Mereka beli produk-produknya, semisal TK, SD dan upacara-upacara tertentu. Sementara pendeta dan aturan hukumnya diabaikan saja. Mereka bayar iuran gereja di kasir, lalu menunggu jasa pelayanan segera. Besoknya, pergi ke toko sebelah, lihat produk apa yang dijual oleh astrologi, psikoterapi atau buddhisme. Lalu minggu depan, belanja lain di toko lain”.



Sikap mereka terhadap Islam dan orang Islam?

Sikap orang Jerman terhadap Islam agak sulit digeneralisir. Pada dasarnya mereka cukup toleran dan liberal, tidak oppressif dan tidak memusuhi. Sikap semacam ini merupakan buah dari gerakan reformasi, pencerahan (Aufklarung), dan sekularisasi yang dimulai sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Orang Jerman menghargai kebebasan beragama (Glaubensfreiheit). Ini memberikan ruang kepada agama-agama non-Kristen termasuk Islam sehingga bisa berkembang. Sekarang ini jumlah Muslim di Jerman diperkirakan mencapai 4 juta orang, kurang lebih seperempat dari total jumlah Muslim se-Eropa, yaitu sekitar 16 juta orang. Ini angka yang cukup signifikan, baik secara sosial, politik maupun ekonomi. Wajar kalau kemudian kalangan gereja, pemerintah, maupun intelektual mulai bimbang dan bersikap ambivalent. Di satu sisi mereka berusaha toleran, liberal dan sekuler. Di sisi lain mereka tidak mau Eropa di-islamkan. Ada kekhawatiran apa yang terjadi pada Kristen di Anatolia dan Afrika Utara pada abad ke-7 dan 8 Masehi akan terulang di Eropa, ungkap Klaus Berger, staf pengajar Teologi Perjanjian Baru di Universitas Heidelberg (“Unsere Situation erinnert an die der christlichen Laender Anatolien und Nordafrika im 7. und 8. Jahrhundert, als ein morsches Christentum einfach ueberrannt wurde”). Muncullah gagasan “EuroIslam” atau Islam versi Eropa, yang tidak fundamentalis dan tidak fanatik, tetapi liberal dan sekuler. Jangan Eropa yang di-islamkan, tapi Islamlah yang harus di-eropakan. Begitu kira-kira mau mereka. Gagasan ini kelihatannya ditanggapi serius oleh pemerintah Jerman. Maka pada 22 Agustus 2004 kemarin, sebuah pusat pendidikan guru agama Islam diresmikan di Universitas Muenster. Tujuannya, sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Dikdasmen, Ute Schaefer, untuk mengontrol pengajaran agama Islam di sekolah-sekolah, agar siswa-siswa tidak diajarkan ‘macam-macam’ (“Islamunterricht unter staatlicher Aufsicht bietet ausserdem die Gewaehr dafuer, dass jungen Menschen keine Inhalte vermittelt werden, die nicht mit der Weltordnung des Grundgesetzes vereinbar sind”). Adapun sikap ambivalent agamawan tercermin, misalnya, dalam oposisi mereka terhadap rencana pembangunan masjid Turki di Kassel. Partai Kristen Demokrat (CDU) setempat beralasan, masjid itu bisa jadi sarang kaum fundamentalis, juga bisa menggoyahkan kultur Kristen-Barat yang ada (“dies koennte die christlich-abendlaendische Leitkultur ins Wanke bringen”). CDU pula yang mengusulkan agar kamera pemantau dipasang di setiap masjid di seluruh Jerman.



Anda mengikuti perkembangan kasus Luxenberg?

Ya. Saya yakin Luxenberg itu tidak sendirian. Indikatornya cukup banyak. Media Barat mengeksposnya besar-besaran, dari Frankfurter Allgemeine (koran terkemuka Jerman), Le Monde (Paris), the Guardian (London), New York Times, hingga Gatra di Indonesia, membuat laporan tentang bukunya, die Syro-aramaeische Lesart des Koran. Kalangan akademis meresponnya dengan sikap hypokrit dan ‘malu-malu kucing’; kritis tapi juga mendukung. Maka Institute for Advance Study, Berlin, bekerja sama dengan Seminar fuer Semitistik und Arabistik, Freie Universitaet Berlin, belum lama ini menggelar symposium tentang buku Luxenberg itu. Kemudian Radio Jerman (DeutschlandFunk) menyiarkan dialog interaktiv dengan nara sumber Professor Manfred Kropp, direktur Deutsches Orient Institut Beirut, dan Professor Claude Gilliot, pakar studi al-Qur’an dari Universitas Aix-en-Provence, Perancis. Dan, tentu saja, lembaga-lembaga Kristen menyambutnya dengan sangat antusias, apalagi lembaga semacam Mar Gabriel-Verein zur Unterstuetzung der syrischen Christen e.V., University of St. Thomas, dan lain-lain. Jadi, apa yang dia lakukan sebenarnya sudah menyerupai movement, gerakan menghabisi al-Qur’an secara programatis. Christoph Luxenberg itu nama samaran. Nama sebenarnya Ephraim Malki. Dia ini dosen di Universitas Saarbruecken. Asalnya dari Libanon, tapi sudah warganegara Jerman. Dalam wawancaranya baru-baru ini dengan koran Jerman Tageszeitung, dia mengatakan bahwa terjemahan Inggrisnya segera terbit dan edisi keduanya sedang digarap dan diperkirakan siap terbit akhir tahun ini. Ketika heboh soal pelarangan jilbab di Perancis dan Jerman kemarin, dia menulis di koran, bahwa ayat 31 surah an-Nur itu telah dibaca keliru dan disalah-artikan. Menurut dia, kalimat “wal yadhribna bi-khumurihinna” mestinya diartikan “hendaklah mereka mengikat sabuk mereka dipinggang”, bukan “menutup kain kudung ke dada mereka”. Alasannya, dari bahasa Syro-aramaic “qmara” yang artinya ikat pinggang. Lalu kata-kata “juyuub” dalam ayat itu dirubah bacaannya menjadi “junuub”. Itu hasil utak-atiknya. Jadi dia masih aktif sekali. Kasus Luxenberg ini juga membuktikan bahwa orientalis yang anti-Islam masih banyak berkeliaran. Benarlah firman Allah swt: “wa-lan tardhaa ‘anka ’l-yahuudu wa-la an-nashaaraa hattaa tattabi‘a millatahum!”



Apakah akan ada gemanya di Indonesia?

Tentu ada. Kan baru-baru ini heboh soal buku “Jihad Kristen” karangan pendeta Josias Lengkong. Argumennya mirip argumen Luxenberg. Dia bilang istilah jihad sudah dikenal oleh kaum Nasrani sebelum Islam karena ada dalam Bibel bahasa Arab. Saya melihatnya sebagai reworking dari tesisnya Luxenberg. Orang kita kan memang suka barang impor, suka latah dan ikut-ikutan. Seringkali tanpa mengerti maksud dan latarbelakangnya. Orang Barat sekuler, ikut sekuler. Mereka liberal, ikut liberal. Mereka kritik Bibel, kita kritik Qur’an. Nanti, mereka hancur, kita pun ikut hancur.

Bagaimana mengantisipasinya?

Kita harus mengenal diri kita, mengenal agama kita, tradisi intelektual kita, secara mendalam dan menyeluruh, kalau bisa. Kita harus punya self-confidence, atau “pede” kata anak sekarang. Tidak minder dan silau melihat pencapaian orang Barat. Kita juga harus melawan mereka dengan cara-cara yang rasional dan ilmiah. Sekarang ini hegemoni politik, ekonomi dan budaya sudah ditangan mereka. Dalam bidang keilmuan dan intelektual, mereka juga berhasil menciptakan imej bahwa otoritas ada pada mereka. Bahwa mereka lebih pakar dan lebih tahu tentang Islam daripada orang Islam sendiri. Menurut saya, salah satu langkah konkrit untuk mengkounter upaya-upaya seperti yang dilakukan oleh Luxenberg adalah dengan memperdalam pengetahuan kita tentang sejarah Islam, sejarah al-Qur’an, sejarah Hadis dan Hukum Islam, serta mempelajari sejarah Kristen dan Yahudi, plus menguasai bahasa-bahasa semitik selain Arab, seperti Hebrew, Aramaic dan Syriac.

Anda melihat perlunya cendekiawan Muslim belajar bahasa-bahasa Semitik selain Arab. Untuk apa?

Sebab kelemahan kita memang di situ. Mereka tahu sejarah kita, sementara kita buta sejarah mereka. Mereka menguasai segudang bahasa, semitik maupun non-semitik, sementara kita tidak. Sehingga mereka bisa mengatakan: “What you know, we know. What we know, you don’t know!” (Yang elu tau, gue tau. Tapi yang yang gue tau, elu nggak tau!).



Keterangan Foto:
1. Perpustakaan McGill Institute of Islamic Studies
2. Situs Orientalisches Seminar Tübingen
3. Kampus ISTAC Kuala Lumpur
Sumber: Google

Retrieved from: http://inci73.multiply.com/reviews/item/20 (August 9, 2010

Monday, July 12, 2010

Studi Islam di Barat? Apakah Salah?

Oleh Muhammad As’ad

Belajar Islam di barat versus belajar Islam di timur. Perdebatan ini sebenarnya sudah muncul sejak mulai banyaknya mahasiswa Indonesia belajar Islamic studies di negara-negara barat, apakah itu di Eropa, Australia ataupun di Amerika. Yang paling massif adalah di dua Universitas yang memang memberikan beasiswa master secara kontinu pada akhir tahun 80-an hingga sekarang, yaitu Universitas Leiden, Belanda dan Universitas Mcgill, Kanada. Sejak saat itu pula mulai banyak wacana muncul di permukaan mempertanyakan otoritas barat dalam bidang Islamic studies.

Berangkat dari dua pendekatan yang berbeda

Perbedaan yang ada antara studi Islam di barat dan di timur berawal dari dua metode pendekatan yang berbeda. Menurut Azyumardi Azra ada dua pendekatan dalam kajian Islam, yaitu pendekatan teologis dan pendekatan sejarah agama (1994:2). Dengan perbedaan pendekatan tentu akan diperoleh hasil yang berbeda. Pendekatan teologis banyak digunakan oleh negara-negara Islam pada umumnya terutama di timur tengah. Pendekatan ini lebih mengutamakan sisi normatif Islam, dari mulai penghafalan, penyebaran dan pengamalan ajaran Islam. Sedangkan pendekatan sejarah agama lebih banyak dilakukan pada studi Islam di barat. Mereka lebih menitik beratkan kepada aspek kritisisme dan empirisme. Dalam kacamata ini Islam ditinjau dengan parameter ilmiah yang ketat atau bahkan mungkin bisa dikatakan “sadis”.

Pada umumnya, ada dua hal yang selalu muncul di logika kawan-kawan yang menolak “Islamic studies” di barat. Yang pertama adalah anggapan bahwa bahwa Islamic studies ataupun layaknya studi asia atau timur jauh muncul sebagai bagian dari kolonialisme barat. Kita sering menamakannya sebagai studi orientalisme. Adalah benar bahwa studi-studi tersebut pada awalnya berpretensi untuk menjustifikasi serta mencari kelemahan untuk kepentingan kolonial. Contoh mudah yang seringkali digunakan adalah bagaimana seorang Snouck Hurgronje yang merupakan professor bahasa Arab dan ahli Islam di bumi pertiwi di Universitas Leiden disamping bekerja secara “ilmiah” untuk meneliti Islam Indonesia terkhusus studi dia terhadap aceh pada karyanya the Atjehnese juga digunakan untuk kepentingan kolonial. Ini kemudian dijadikan senjata dengan membuat generalisasi bahwa seluruh studi Islam di barat bertujuan untuk melemahkan dan menghancurkan Islam. Padahal sejak munculnya era nation-state dan dihapuskannya era penjajahan, paradigma ini jauh berubah. Studi-studi Islam di barat sudah banyak belajar dari kesalahan tersebut dan berusaha untuk menjadi lebih objektif

Kedua, studi Islam di barat menjadikan mahasiswa Islam menjadi liberal. Salah satu alasannya, karena belajar Islam di barat tidak menjadikan mahasiswa menjadi seorang yang alim. Adalah benar belajar studi Islam di barat tidak menjadikan seseorang menjadi alim karena hanya kepada orang Islam yang alim-lah kita bisa menjadi alim. Kalau kita minta orang barat menjadikan kita alim adalah salah kaprah. Karena itu hanya bisa didapatkan dari seorang muslim yang alim. Tetapi juga harus diingat bukan berarti mahasiwa yang belajar di barat tidak alim. Patut diketahui bahwa hampir semua mahasiwa Islamic studies di barat telah mengenyam pendidikan Islam sejak mereka berada di bangku sekolah dasar, apakah itu pondok pesantren ataukah yang lainnya. Bahkan tidak jarang mahasiswa S2 Islamic studies di barat menamatkan strata satu di timur tengah semisal Universitas al-Azhar. Artinya mereka semuanya terus berproses untuk menjadi seorang yang alim. Disamping terus mengamalkan ilmu-ilmu yang didapat ketika dulu di pesantren atau yang lainnya, mahasiswa Islamic studies mendapatkan tambahan pengetahuan berupa metodologi yang sebagian besar belum lengkap ataupun tidak diberikan oleh Universitas berbasis Islam. Intinya berusaha mendapatkan ilmu metodologi modern dari barat dengan tetap mengamalkan kaidah-kaidah Islam yang telah dipelajari selama ini (al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah).

Tentang dosen-dosen non muslim semakin menjadikan mahasiswa keluar dari ajaran Islam menurut hemat penulis tidak dapat dibenarkan. Pertama, mereka memahami betul tradisi kita sebagai seorang muslim, apakah itu puasa, sholat ataupun merayakan hari raya. Mahasiswa Islamic studies di Leiden selalu diberikan kelonggaran waktu untuk beribadah. Bahkan pada perayaan hari raya idul fitri tahun kemarin semua mahasiswa Islamic studies diberi libur meski itu bukan hari libur nasional di Belanda. Kedua, paradigma yang selalu digunakan oleh para pengajar tersebut adalah paradigma value free (bebas nilai), artinya mereka tidak menggunakan kepercayaan mereka untuk memengaruhi kepercayaan mahasiswa. Karena mahasiswa sudah dinilai mempunyai pemahaman keagaaman yang mendalam. Realita dilapangan yang memang penulis alami sendiri adalah adanya proses timbal balik. Artinya, mereka juga semakin mengenal bentuk Islam melalui proses belajar-mengajar yang dilakukan. Tidak ada proses mendelegitimasi bahwa Islam yang kita pahami salah. Mereka pun semakin paham bahwa Islam yang sesungguhnya bukanlah Islam yang sebagaimana digambarkan oleh media barat yang bersifat politis. Satu sisi positif dengan adanya studi Islam di barat adalah bangsa barat bisa mengenal Islam dengan lebih akademis dan objektif sehingga asumsi apriori yang bersifat propagandis tentang Islam sebagai agama yang menunjang kekerasan dan terorisme bisa segera dihilangkan .

Untuk menutup tulisan ini saya ingin mengutip salah satu pernyataan Harun Nasution yang ditulis di jurnal Ulumul Qur’an tahun 1994. Edisi tersebut membahas tentang pro-kontra studi Islam di barat. Menurut Harun Nasution mengirim mahasiswa Indonesia ke timur tengah untuk belajar studi Islam adalah penting karena disanalah terdapat sumber-sumber ilmu Islam dan bahasa Arab, sedangkan mengirim mahasiswa Indonesia ke barat juga baik karena akan semakin mengasah pemahaman Islam mereka dengan metodologi modern (Ulumul Qur’an:1994:29). Dengan mengacu pendapat tersebut, menurut hemat penulis tidaklah tepat untuk mempertentangkan dua pendekatan ini, menegasikan antara satu pendekatan dengan pendekatan lain akan kontraproduktif dengan masa depan umat Islam Indonesia. Alahkah baiknya dua pendekatan ini saling melengkapi demi kemajuan dan kedewasaan berpikir umat Islam Indonesia. [] Wallahualam bissawab

Retrieved from: http://muhammadasad.blogdetik.com/2009/11/24/studi-islam-di-barat-apakah-salah/ (August 9, 2010)

Saturday, July 10, 2010

Tak Mungkin Belajar Islam pada Orang Junub

12 Mar 2008 -

Dr Syamsuddin Arif *

Belajar Islam ke negara-negara Timur Tengah, itu biasa. Belajar Islam ke negara-negara Barat, ini baru beda dari biasa. Padahal, negara-negara tersebut—setidaknya menurut catatan sejarah—bukan negara yang menjadi tempat berkembangnya Islam, seperti Timur Tengah. Meski demikian, peminatnya dari tahun ke tahun terbilang tidak sedikit.

Menurut data Direktorat Perguruan Tinggi Islam Departemen Agama tahun 2005, pengiriman mahasiswa untuk belajar Islam ke negeri Barat dimulai pada tahun 1950-an. Jumlah mahasiswa yang berangkat berjumlah tiga orang, yaitu: Harun Nasution, Mukti Ali, dan Rasyidi. Ketiga orang tersebut belajar di McGill’s Institute of Islamic Studies (MIIS), Kanada. Dan sekarang, perkembangannya jauh lebih besar dan lebih dasyat.

Umumnya, sebagian lulusan studi Islam di Barat terpengaruh gaya berfikir ala Barat yang liberal dan sekuler. Tapi tak semuanya begitu. Ada juga yang kritis. Professor Rasjidi, misalnya adalah seorang lulusan program Islamic Studies di Universitas McGill, Kanada. Tapi ia justru ikut “menghadang gerakan anti sekularisme dan liberalisme”. Namun menurut mantan Menteri Agama RI pertama ini, pada umumnya belajar Islam di Barat sangat terpengaruh oleh pemikiran orientalis.

Bagaimana sebenarnya belajar di Barat? Dan bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim? Bolehkan seorang Muslim belajar tentang Islam pada seseorang yang tidak meyakini Iman Islam?


Fakultas khusus Islamic studies
Nah, hidayatullah.com[/url] kali ini mewawancari Dr. Syamsussin Arif. Syamsuddin adalah peneliti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization). Cendekiawan muda Betawi ini menyelesaikan doktornya di ISTAC-Kuala Lumpur dan juga pernah menyelesaikan disertasi untuk doktor keduanya di Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt, Jerman. Kini, selain sebagai peneliti INSISTS, sehari-hari ia mengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM). Di bawah ini adalah petikan wawancaranya.

Lutfie Assyaukanie dari aktivis Islam Liberal (JIL) pernah berkata, "Asiknya belajar Islam di Barat." Anda juga pernah belajar Islam di Barat. Apa Anda merasakannya?

Kalau yang dimaksud mempelajari seluk-beluk ajaran Islam secara serius lagi mendalam, dengan tujuan menjadi ulama pewaris Nabi dalam arti yang sesungguhnya, maka universitas- universitas di Barat bukanlah tempatnya.

Bagaimana mungkin seorang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak pernah bersuci, tidak pernah shalat, disebut ahli hadis, ahli tafsir, ahli fiqh? Bagaimana mungkin orang yang seumur hidupnya dalam keadaan junub disejajarkan dengan Imam as-Syafi'i, Imam Ahmad, Imam al-Ghazali? Hayhaata hayhaata, saa'a maa yahkumuun (Aduhai, aduhai, sungguh suatu keputusan yang buruk).

Namun kalau tujuannya mempelajari cara sarjana Barat mengkaji Islam, maka saya kira bukan masalah. Adapun soal asiknya belajar di Barat itu memang betul. Tapi, tentu bukan hanya di Barat. Lebih tepatnya di negeri orang.

Bagi orang Barat, belajar di Timur itu mengasikkan. Banyak kejutan karena serba tak pasti. Berbeda dengan suasana di negeri asal mereka yang semuanya teratur dan serba terencana, sehingga hidup sehari-hari menjadi monoton dan menjemukan.

Sebaliknya, bagi orang Timur, hidup di Barat itu nyaman dan menyenangkan. Lingkungannya bersih, transportasi murah, lancar, aman, dan lain sebagainya. Jadi, yang asik bagi saya itu suasana hidup di Barat, bukan belajar Islam di Barat.

Menurut Anda, perlukah Muslim Indonesia belajar studi Islam di Barat?

Nah, pertanyaan ini sudah betul. Belajar studi Islam di Barat, bukan belajar Islam. Jawabannya, menurut saya, tetap perlu, meski harus diikat dengan niat dan syarat yang jelas. Niatnya meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memperluas wawasan lillahi ta'ala, bukan li-dun-ya yushibuha.

Di Barat, Anda bisa mempelajari metodologi riset yang biasa disebut technique of scholarship. Metode ini menggabungkan penguasaan bahasa, budaya, dan sejarah dengan kecakapan filologi dan ketajaman analisis falsafi. Adapun syaratnya, yang bersangkutan harus sudah matang dulu secara intelektual maupun spiritual.

Sebenarnya, apa efeknya jika belajar studi Islam di Barat?


Efeknya banyak. Bisa positif dan bisa negatif. Positifnya, Anda dilatih untuk serius dan teliti dalam mengkaji suatu masalah. Anda juga akan paham mengapa dan untuk apa orang-orang Barat itu menekuni studi Islam.

Efek negatifnya juga ada. Anda menjadi skeptis (senantiasa meragukan). Namun, menurut saya, soal efek ini tergantung orangnya. Kalau yang bersangkutan suka jahil dengan agamanya sendiri dan buta akan tradisi intelektual Islam, apalagi kalau sudah minder, tentu mudah sekali terpukau dan terpengaruh oleh hasil kajian islamolog Barat.

Dalam beberapa kasus, orang mengaku menemukan Islam di Barat. Bagaimana ini bisa terjadi?

Saya kira itu ungkapan frustasi yang berlebihan. Sebuah jawaban untuk pertanyaan yang telah menggangu para pemikir Muslim dari mulai Abduh, Iqbal, Rahman hingga al-Attas: limaadza ta'akhkhara l-muslimun wa taqaddama ghayruhum? Mengapa umat Islam tertinggal, sementara umat-umat lain maju pesat?

Keterbelakangan umat bukan disebabkan oleh ajaran Islam, sebagaimana kemajuan Barat bukan dikarenakan agamanya. Kemajuan, kebersihan, kesehatan, ketertiban, itu soal mentalitas, soal disiplin, kejujuran dan kerja keras. Meminjam ungkapan almarhum Ustadz Rahmat Abdullah: " Umat Islam ini bagaikan mobil tua yang remnya pakem, sedangkan Barat itu bagiakan mobil mewah yang remnya blong."

Menurut Anda, apakah studi Islam di Barat atau Eropa itu selalu kental misi orientalisme?

Saya tidak ingin memukul-rata. Namun, pada banyak kasus memang tak dapat dipisahkan dari agenda-agenda tertentu yang jelas berpihak pada kepentingan politik, ekonomi, dan budaya mereka. Hal ini dapat dimaklumi dan terlalu naif untuk kita pungkiri.* [Agus Amin, Cholis Akbar. Diambail dari majalah Suara Hidayatullah/www.hidayatullah.com]


Dr Syamsuddin Arif *
[Peneliti INSISTS dan pengajar di : [Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM)]

Retrieved from: http://jaton.forummotion.com/tampilan-utama-f25/tak-mungkin-belajar-islam-pada-orang-junub-t94.htm (August 9, 2010)

Friday, July 9, 2010

Dr Syamsuddin Arif: Belajar Islam ke Barat, Iman Harus Kuat

InpasOnline, 25/06/09

Kini Barat sedang gencar-gencarnya mengundang mahasiswa muslim untuk belajar Islam di universitas mereka. Tentu saja ini tidak lepas dari maksud tertentu yaitu agenda mereka merubah pandangan umat Islam terhadap agamanya. “Barat menginginkan orang Islam memahami Islam sebagaimana mereka memahami Islam,”jelas Dr. Syamsuddin Arif.

Ironisnya, tawaran tersebut disambut sangat baik oleh para sarjana muslim. Mereka berlomba-lomba mendapatkan beasiswa ke Barat. “Sebenarnya hal itu tidak ada masalah jika mereka yang hendak ke sana membekali diri dengan ilmu dan iman yang kuat,”terang dosen Universitas Antar Bangsa Malaysia ini.

Yang menjadi persoalan, menurut Syamsudin, jika yang ke sana adalah mereka yang 'ignorant', jahil mengenai agamanya sendiri dan buta akan tradisi intelektual Islam. Apalagi kalau sudah kemasukan inferiority complex alias minder, sehingga mudah sekali terpukau dan terpengaruh oleh hasil kajian islamolog Barat.

Menurut Syamsuddin, kampus-kampus di Barat mempelajari Islam dengan framework (cara berfikir) orientalis. Dimana framework orientalis itu begitu detail dan rumit, sehingga kalau tidak cermat, orang yang sedang belajar Islam di sana tidak akan menyadarinya. Padahal, cara orientalis dalam mempelajari Islam ini sangat berbahaya. Pasalnya, mereka mempelajari Islam bukan untuk mencari kebenaran, melainkan semata-mata untuk ilmu.

“Islam tidak dipelajari berdasarkan iman, bertambahnya ilmu tidak menjadikan bertambahnya iman. Bahkan sebaliknya, dapat makin menjauhkan orang dari Tuhan,” ulas Syamsuddin.

Sebab, menurut Syamsuddin, orang Islam yang belajar Islam dengan menggunakan framework orientalis akan menjadi Muslim yang kritis terhadap tradisi intelektual Islam, tetapi apresiatif terhadap tradisi intelektual Barat. Ini karena Islam dipelajari secara telanjang, tidak dengan iman.

Perubahan cara pandang ini pada akhirnya akan merubah banyak hal, termasuk merubah cara berfikir dan merubah cara berislam orang yang bersangkutan. Karena itu menurut Syamsuddin, efek negatif belajar Islam di Barat adalah orang bisa menjadi skeptis (senantiasa meragukan), agnostik (selalu mencari tapi tidak pernah menemukan), pedantik (cenderung berbelit-belit), reduksionistik (suka mengerucutkan permasalahan), dan lain sebagainya.

Berikut penjelasan Dr. Syamsuddin yang diwawancari Majalah Hidayatullah yang dikutip Inpasonline.com

Menurut Anda, perlukah kaum Muslim belajar studi Islam di Barat?

Menurut saya, tetap perlu. Tapi sebelum pergi ke sana harus punya bekal yang matang. Yang bersangkutan harus diikat dengan niat dan syarat yang jelas.

Niatnya meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman dan memperluas wawasan lillahi ta'ala, bukan li-dun-ya yushibuha. Kita harus akui bahwa Barat unggul dalam metodologi riset yang biasa disebut technique of scholarship. Metode ini menggabungkan penguasaan bahasa, budaya, dan sejarah dengan kecakapan filologi dan ketajaman analisis falsafi. Adapun syaratnya, yang bersangkutan harus sudah matang dulu secara intelektual maupun spiritual.

Apakah karena alasan Barat unggul dalam metolodogi kemudian Anda juga belajar ke sana?

Itu yang pertama. Selama ini banyak orang beranggapan studi Islam di Barat lebih unggul dibanding di Timur Tengah, terutama dalam hal metodologi. Nah, saya ingin membuktikan sendiri sejauh mana kebenaran asumsi tersebut. Apakah itu kenyataan atau mitos belaka. Kedua, saya juga ingin membuktikan apakah benar yang sering dikatakan selama ini, bahwa orientalis Islam untuk menghancurkannya. Hemat saya, agar tidak dituduh bersikap a priori oleh para pengikut orientalis, adalah penting untuk memiliki pengalaman sendiri. Ini penting supaya tidak terkena peribahasa, “man jahila syay’an ‘adahu”, bahwa orang yang belum mengenal sesuatu cenderung memusuhinya. Terakhir, untuk legimitasi dan otoritas. Sebab, disadari atau tidak, bangsa kita masih percaya bahwa lulusan Barat konon lebih paham dan menguasai. Lebih qualified dibanding lulusan dalam negeri atau Timur Tengah. Karena itu, menurut saya, ada untungnya kalau kita pernah studi di Barat, terutama ketika kita menghadapi para pengagum Barat yang arogan dan merasa ‘superior’. Kata hadits sombong kepada orang sombong adalah sedekah.

Apa yang Anda pelajari di sana?

Semula saya ingin belajar paleografi dan filologi bahasa Arab, khususnya yang berkaitan dengan teknik dan seluk beluk penyuntingan manuskrip. Handsschrifkunde istilahnya. Sekaligus mempelajari metodologi riset orientalis. Untuk itu saya berniat mengedit kitab Abkar al-Afkar karya Saifudin Al-Amidi, yang juga pengarang kitab al-Ihkam fi Ushulil –Ahkam. Jadi dirasah wa tahqiq. Sebagian besar manuskripnya sudah saya teliti waktu di Istanbul. Namun rencana tersebut berubah, karena belakangan saya dapat info, ternyata kitab tersebut sudah diterbitkan di Kairo. Akhirnya saya memutsukan untuk mengkaji satu bagian saja dari kitab tersebut, yakni Qaidah ke-4, seputar masalah-masalah teologi. Saya beruntung karena pembimbing saya, Profesor Hands Daiber, tidak mempersoalkan topic dan judul yang saya pilih.

Anda belajar kepada orietalis. Apa tidak takut terpengaruh?

Kalau pengaruh positif, seperti keseriusan dan ketelitian dalam mengkaji sebuah masalah, justru saya harapkan. Dalam hal ini saya harus belajar banyak pada mereka. Dalam menganalisa sebuah masalah mereka betul-betul all-out dan tidak kenal lelah. Ini kan sangat positif.

Tapi jika pengaruh negative, seperti sikap arogan, double-standard, pedantic, reduksionistik, biased dan lain sebagainya yang melatarbelakangi berbagai asumsi dan pendapat mereka, tentu saya berharap tidak. Memang harus kita akui banyak di kalangan kaum muslim yang terpengaruh bahkan mengusung dan menyebarkan pikiran-pikiran dan gagasan mereka.

Namun yang kritis terhadap orientalis juga banyak. Contohnya, Syaikh Abdul Halim Mahmud lulusan Sorbone, Mustafa A’zami dari Cambridge atau Syed Naquib Al-Attas lulusan London.

Jadi masalah terpengaruh atau tidak, menurut saya, tergantung orangnya. Kalau kita ignorant’, tidak mengerti tentang agama kita sendiri apalagi sampai mengidap penyakit minder terhadap Barat, tentu mudah sekali terpengaruh dan terpukau mereka. Pendek kata jangan seperti istri Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh tukang sihir.

Dalam beberapa kasus, orang mengaku menemukan Islam di Barat. Bagaimana ini bisa terjadi?

Saya kira itu ungkapan frustasi yang berlebihan. Sebuah jawaban untuk pertanyaan yang telah menggangu para pemikir Muslim dari mulai Abduh, Iqbal, Rahman hingga al-Attas: limaadza ta'akhkhara l-muslimun wa taqaddama ghayruhum? Mengapa umat Islam tertinggal, sementara umat-umat lain maju pesat?

Keterbelakangan umat bukan disebabkan oleh ajaran Islam, sebagaimana kemajuan Barat bukan dikarenakan agamanya. Kemajuan, kebersihan, kesehatan, ketertiban, itu soal mentalitas, soal disiplin, kejujuran dan kerja keras.

Menurut Anda, apakah studi Islam di Barat itu selalu kental misi orientalisme?

Saya tidak ingin memukul-rata. Namun, pada banyak kasus memang tak dapat dipisahkan dari agenda-agenda tertentu yang jelas berpihak pada kepentingan politik, ekonomi, dan budaya mereka. Hal ini dapat dimaklumi dan terlalu naif untuk kita pungkiri.

Menurut pengamatan Anda, sikap orientalis terhadap Islam itu seperti apa?

Mereka sebenarnya ada yang halus dan ada yang kasar (dalam memusuhi Islam). Kalau yang halus itu seperti profesor saya. Ia mengatakan, meskipun kita tidak sependapat dengan orang Islam, kita sebaiknya menjaga hati orang Islam, jangan melukai hati orang Islam. Yang halus seperti ini biasanya dengan bahasa diplomatis. Kalau di Inggris ada Montogomerry Wat, dan di Jerman ada Annimarie Schimmmel. Karena begitu simpatiknya terhadap Islam, Schimmel sampai dikenal sebagai ahli Pakistan, India, Parsia, dan sufistik Timur. Ia pernah dianugerahi Pen Award. Itu anugerah penulis internasional berbasis di Perancis.

Ketika diwawancarai tentang Salman Rushdie, ia bilang, Salman itu salah. Menurutnya, tindakan si penulis buku Ayat–ayat Setan (The Stanic Verses) itu tidak bisa dibenarkan. Sebab berarti melukai hati orang Islam. Tapi akibat komentarnya itu, ia diprotes, serta seketika itu pula penghargaan yang ia terima ditarik. Memang ada yang bilang Schimmel sudah masuk Islam, tapi bukan itu yang penting. Tapi sikap dan komentar dia yang mengatakan Salman Rushdie itu salah dan melukai umat Islam. Di sini ada ketegangan antara umat Islam dan Kristen.

Retrieved from: http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=200:dr-syamsuddin-arif-belajar-islam-ke-barat-iman-harus-kuat&catid=50:nasional&Itemid=111 (August 9, 2010)

Luthfi Assyaukanie MA: Asyiknya Belajar Islam di Barat

islamlib.com, 08/03/2004
Oleh Redaksi

Dengan berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi para generasi Islam dari kalangan akademis, termasuk dari Indonesia. Itu yang dirasakan Luthfi Assyaukanie MA, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Mulya Jakarta, ketika belajar di sana. Berikut secuil kisahnya.

Maraknya studi Islam yang diselenggarakan oleh dunia Barat, pada satu sisi merupakan bagian dari pragmatisme dunia akademis Barat sendiri. Kebutuhan objektifnya adalah untuk mengenal dunia Islam secara lebih dekat. Karena itu, pelbagai perguruan tinggi dunia Barat membuka bidang studi Islam yang biasanya termasuk dalam lingkup area studies (studi kawasan). Berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi para generasi Islam dari kalangan akademis, termasuk dari Indonesia. Banyak nama yang bisa kita munculkan di sini misalnya Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Syafii Maarif, Dr. Amien Rais, Dr. Dien Syamsuddin dan banyak lagi. Kekhawatiran studi Islam di Barat akan menggerogoti nilai-nilai Islam, pada akhirnya terbantahkan oleh kenyataan-kenyataan objektif itu.

Hal tersebut juga dialami oleh Luthfi Assyaukanie MA, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Mulya Jakarta. Untuk berbagi pengalamannya, Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai kandidat doktor di Melbourne University, Australia, yang saat ini sedang jeda kuliah di Jakarta, sembari melakukan riset untuk melengkapi disertasi doktornya tentang pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, Kamis (4/3/ 2004). Berikut petikannya:

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Bung Luthfi, Anda pernah kuliah di Timur Tengah. Bisa Anda ceritakan iklim intelektual di sana?

luthfi2004.jpgLUTHFI ASSYAUKANIE: Saya belajar di Timur Tengah, tepatnya di Yordania pada akhir tahun 80-an. Tepatnya, dari tahun 1987-1988, saya mulai kuliah mengambil jurusan agama, bukan filsafat. Tepatnya saya kuliah di jurusan Syari’ah, walau kemudian saya mengikuti manner, far’iy atau cabangnya. Saya mengambil filsafat di Fakultas Sastra.

Saya kira, pilihan kuliah ke Yordania ketika itu, selain karena faktor kebetulan, juga karena lingkungan politik dan keagamaan di Yordania saat itu termasuk cukup liberal dibandingkan Negara-negara Teluk, atau bahkan pada tingkat tertentu, Mesir sendiri. Di Mesir pada saat itu, kelompok Ikhwanul Muslimin --misalnya-- dilarang pemerintah untuk melakukan aktivitas politik. Sementara di Yordania, Ikhwanul Muslimin diberi kebebasan yang cukup, dan sempat memenangkan pemilu yang diadakan pertama kali, tahun 1989. Makanya, secara umum saya kira politik keagamaan di Yordania saat itu bisa dikatakan lebih bebas dari negara-negara tetangganya.

ULIL: Bagaimana perkembangan studi filsafat di dunia Islam, dalam pandangan Anda, sekurang-kurangnya dilihat dari jurusan Anda di Timur-Tengah?

LUTHFI: Sebagaimana dikatakan banyak orang, di dunia Sunni, filsafat atau dunia pemikiran secara umum, memang mengalami kemunduran atau kemandegan luar biasa. Orang selalu membandingkan antara dunia Sunni dan dunia Syi’ah dalam perbincangan soal ini. Di dalam tradisi pemikiran Sunni, puncak pemikiran filsafat berhenti pada sosok Ibnu Rusyd. Tapi dalam dunia Syi’ah masih terus berlanjut. Meski demikian, saya juga mengritik dunia pemikiran Syi’ah, karena cenderung pada pemikiran yang bersifat eksoteris. Maksudnya, pemikiran-pemikiran yang bersifat enlightment atau mencerahkan termasuk hilang juga.

ULIL: Sekarang Anda belajar Islam di Australia. Bisakah Anda membandingkan antara lingkungan intelektual di Yordania dengan Australia?

LUTHFI: Secara umum, kehidupan intelektual antara keduanya tidak terlalu banyak berbeda. Mungkin yang berbeda justru pada fasilitas, seperti perpustakaan dan exposure dari orang-orang di dalam dunia akademik. Maksud saya, di lingkungan akademis yang standar di Dunia Barat, saya kira ada iklim yang cukup bebas, dan hampir tidak ada tekanan dalam aktivitas pemikiran karena ideologi atau keyakinan tertentu.

ULIL: Sebagai seorang muslim, dimana kemusliman Anda lebih bisa terekspresikan secara leluasa, di Australia atau di Yordania?

LUTHFI: Itu perbandingan dari ruang dan nuansa yang betul-betul berbeda; yang satu negara yang mayoritas berpenduduk muslim, yang lain mayoritas nonmuslim. Dibilang perbandingan antara negara sekuler dengan negara bukan sekular juga tidak bisa, karena Yordania dalam tingkat tertentu sebetulnya bisa disebut negara sekular, dalam pengertian bahwa agama bukan perkara publik yang terlalu dipentingkan untuk diurus negara. Dalam konteks ini, saya kira, Yordania bukan negara agama, tapi memang penduduknya kebanyakan muslim.

ULIL: Menurut Anda, dari sudut penilaian Islam, apakah Australia bisa dikatakan sebagai negeri yang memenuhi harapan Islam?

LUTHFI: Saya jadi teringat kata-kata Muhammad Abduh, seorang tokoh reformis Mesir yang kemudian pernah berkeliling Eropa. Sebuah statemen yang sangat terkenal darinya adalah ungkapan bahwa dia melihat Islam di Eropa, Inggris dan Perancis khususnya, tapi tidak melihat kaum muslim di sana. Sebaliknya, dia melihat kaum muslim di Mesir (negerinya) tapi tidak melihat Islam di sana.

ULIL: Hal serupa Anda saksikan di Australia?

LUTHFI: Ya, pengalaman serupa saya temukan. Artinya, begitu banyak ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang selama ini saya dapatkan dalam Islam, justru saya temukan aplikasinya di Australia. Misalnya dalam hal kebersihan, ketertiban, keamanan, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut kan semuanya merupakan ajaran yang sejak kecil selalu dicekoki kepada kita. Tapi sayangnya, justru itu tidak kita temukan di banyak negara yang mengklaim sebagai negara muslim mayoritas.

ULIL: Bung Luthfi, orang selalu mencibir bahkan sinis kalau kita belajar Islam di negeri non-Islam. Nah, apa sih alasan Anda belajar Islam di sana?

LUTHFI: Saya kira yang paling utama, yang orang jarang sadari adalah kenyataan bahwa di negara-negara Barat, termasuk Australia, fasilitas pendidikannya luar biasa, sehingga buku-buku keislaman yang kita perolah mungkin jauh lebih banyak ketimbang yang kita temukan di Mekkah dan Madinah sekalipun. Di sana, buku-buku berbahasa Arab luar biasa banyaknya. Koleksi buku-buku klasik Islam cukup banyak. Koleksi buku-buku hadis, misalnya, dari Bukhari-Muslim, Kutubus Sittah, Mustadrak, dan lain-lain, semua bisa didapat dengan mudah, dan dengan fasilitas yang luar biasa memudahkan.

ULIL: Dan banyak juga orang bertanya: kenapa sih orang Barat menyelenggarakan studi Islam di pelbagai perguruan tinggi mereka?

LUTHFI: Saya kira itu bagian dari pragmatisme mereka, yakni tuntutan pasar secara umum. Pada tahun 80-an, di Amerika banyak sekali muncul studi tentang Midlle Eastern (Timur Tengah) atau Near Eastern Studies (Studi Timur Dekat), yang sebetulnya merupakan upaya untuk studi dunia Arab secara keseluruhan. Studi tentang Islam masuk ke dalam departemen ini. Dan mereka mendirikan departemen semacam ini karena ada tuntutan yang mendesak pada saat itu, misalnya karena pesatnya industri, dan booming minyak di Tanah Arab. Oleh kenyataan itu, tentu mereka harus punya penguasaan terhadap kondisi sosial-politik-budaya wilayah tersebut. Dan munculnya departemen ini sama seperti munculnya departemen lain di dalam area studies.

ULIL: Banyak orang mengatakan, semua itu dilakukan Barat untuk menghancurkan Islam sendiri. Menurut Anda, apakah lingkungan akademis di negeri Barat memang memusuhi Islam atau bagaimana?

LUTHFI: Saya kira orang-orang Barat itu pragmatis saja. Dan dunia akademis Barat, secara umum adalah dunia pragmatis. Artinya, mereka membuka bidang studi Islam yang biasa disebut area studies, oleh kebutuhan yang objektif secara akademis. Makanya, kalau kita menemukan teori baru dalam studi Islam, mereka tidak akan pernah campur tangan, sepanjang argumen kita kuat.

Saya kira, di dunia Islam, penemuan-penemuan akademis seperti itu, justru terkadang bermasalah. Misalnya kalau saya bandingkan dengan di Yordania sendiri. Yordania itu kan negara yang relatif lebih bebas dibandingkan Arab Saudi, misalnya. Tapi jika kita mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan mainstream keyakinan di sana, tetap saja ada tekanan dan tidak akan dibolehkan. Ketika masih di Yordania, saya punya teman yang sangat concern akan pemikiran Hizbut Tahrir yang radikal. Tapi kemudian yang menekan dia bukan datang dari kelompok sekular di sana, tapi justru kelompok Islam yang tidak suka akan Hizbut Tahrir. Nah logikanya, kalau pemikiran Islam saja tidak disukai, apalagi pemikiran yang lain.

ULIL: Jadi, motif studi Islam di Barat itu, sebetulnya akademis, politis, atau apa?

LUTHFI: Sejauh yang saya amati, tidak ada apa yang perlu dikhawatirkan kaum muslim selama ini. Misalnya kekhawatiran itu dilakukan sebagai bentuk konspirasi Barat terhadap Islam.

ULIL: Tapi sejumlah sarjana Barat yang sinis terhadap Islam itu kan betul-betul fakta!

LUTHFI: Ya, sama saja dengan fakta sarjana Islam yang sinis terhadap Barat. Dan itu banyak sekali, melebihi banyaknya sarjana Barat yang sinis terhadap Islam. Kalau berbicara pada tataran individu, tentu fenomena itu bisa dikatakan fenomena yang alamiah belaka. Tapi kalau kita berbicara pada tataran umum dan pada level institusi, hal itu sesungguhnya tidak ada. Saya tidak percaya akan hal itu.

ULIL: Sebagai mahasiswa muslim yang belajar Islam di Australia, apakah Anda tidak merasa tertekan?

LUTHFI: Jelas tidak. Sekarang saja yang memegang Departemen Islamic Studies di sana (Melbourne University) adalah seorang muslim. Lulusan Madinah, bahkan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari studi Islam di Barat. Buat mereka, kalau seseorang itu qualified dan bisa memenuhi syarat-syarat akademis, mereka akan dengan mudah meraih posisi strategis.

ULIL: Terakhir, apa saran Anda untuk para pelajar Islam di Tanah Air, berkaitan dengan dunia Barat?

LUTHFI: Saya ingin menegaskan, banyak sekali yang bisa dipelajari dari dunia Barat. Dan interaksi kita di Dunia Islam dengan Dunia Barat bukanlah hal yang baru. Pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, banyak sekali intelektual muslim yang berkaca kepada Barat. Mereka mengambil sisi baik Barat, kemudian melakukan reproduksi intelektual yang luar biasa menakjubkan. Mereka menulis buku, bahkan menciptakan teknologi, ilmu kedokteran, dan lain sebagainya. Itu sebagiannya mereka ambil dari Barat. Nah kalau kita punya pengalaman yang baik dengan Barat, kenapa kita tidak tiru itu lagi? []

Retrieved from: http://islamlib.com/id/artikel/asyiknya-belajar-islam-di-barat/ (August 9, 2010)

Kajian Islam Indonesia

OLeh Muhamad Ali

Retrieved from: http://muhamadali.blogspot.com/2008/03/kajian-islam-indonesia.html (August 09, 2010)

Penting melihat perkembangan (atau kemunduran?) studi Islam di Indonesia, dan bagaimana arahnya kedepan. Cak Nur almarhum pernah menulis Islam Indonesia harus bergerak dari pinggiran ke pusat. Cak Nur melihat keunikan dan kompleksitas ciri-ciri Islam Indonesia: Islam dan budaya lokal, Islam dan Sufisme, dan Kebangkitan Islam. Ia berkesimpulan, seperti Hodgson dalam The Venture of Islam-nya, bahwa Islam Indonesia sama sejatinya dengan Islam di dunia lain; ini untuk menolak anggapan bahwa Islam Indonesia inferior dan marjinal dibanding Islam Arab.

Supervisor saya di Edinburgh, yang juga supervisor Kak Edy di Columbia, William Roff, melihat Islam Indonesia sebagai industri pengetahun (knowledge industry) yang memiliki masa depan cerah. Roff membagi pendekatan kajian Islam menjadi tekstualis dan kontekstualis - apa yang seharusnya disatu sisi dan praktek budaya di sisi lain, dan sependapat dengan Salvatore dalam Islam and Political Discourse of Modernity yangmembuka hubungan dialektis antara wacana Orientalisme dan wacana otentisitas. Ia berharap banyak kepada lulusan IAIN yang menggabungkan berbagai tradisi pemikiran yang ia sebutkan itu.

Saya melihat kesarjanaan Islam di Indonesia masih terus mencari bentuknya, dan saya kira perkembangannya sangat ditentukan oleh semua yang tertarik dan serius mengembangkannya. Pertama, selama ini, kajian-kajian lulusan Timur Tengah masih terfokus pada kajian teks dan kajian normatif. Kajian normatif tekstualis seperti ini sangat penting dalam hal pengembangan Islam sebagai agama anutan mayoritas umat Islam Indonesia. Transmisi ilmu dari Saudi, dari Mesir, Pakistan, cukup mendominasi. Melalui Pakistan, format kajian Islam di Indonesia menjadi lebih pada kajian-kajian negara Islam dan ekonomi Islam. Melalui Saudi, kajian-kajian Islam pada ushuluddin. Sementara Mesir, lebih beragam: tafsir, filsafat, dan seterusnya.

Transmisi dari Timur Tengah dan Asia Selatan ini memiliki dampak pada pendekatan dan obyek kajian dan arah kajian Islam di Indonesia khususnya di lembaga-lembaga pendidikan berorientasi da'wa. Posisi IAIN menurut saya lebih unik, karena transmisinya tidak terbatas berasal dari negeri-negeri ini, tapi juga Iran, Afrika (Sudan), Leiden, dan negeri-negeri Barat, plus dari lulusan pasca sarjana IAIN/UIN sendiri. Dengan kata lain, kajianIslam di IAIN/UIN di tingkat S-1 cenderung lebih terbuka dan eklektik, dan salah satu resikonya cenderung generalis.

Secara singkat bisa dikatakan, ciri kajian Islam di IAIN/UIN berada pada konteks yang lebih multi-kultural. Untuk topik ini, kolega saya Michael Feener baru menulis artikel tentang sejarah intelektualisme Islam dalam konteks multi-kultural. Saya sependapat dengan Feener, bahwa kajian Islam Indonesia lebih multikultural dibandingkan dengan kajian-kajian Islam di beberapa negara Arab sendiri. Kedua, dari sisi metodologi, kajian Islam di Indonesia, meskipun multikultural diatas, masih jauh dari kedalaman. Artinya, karena prosesnya masih transisional dan masih mencari jati diri keilmuan, sebagian sarjana Muslim Indonesia terlalu "excited", gembira, dengan teori-teori dan metode-metode baru yang muncul, tapi melupakan fokus, dan tidak melanjutkannya untuk penguatan. Misalnya, banyak mahasiswa/sarjana yang tertarik dengan metode sejarah dan hermenetik Arkoun, atau Abu Zaid, atau Hanafi, dan seterusnya, namun basis bahasa dan keseriusan masih kurang optimal.

Saya melihat faktor bahasa masih menjadi penghambat. Arab, Inggris, Perancis, Jerman sudah mulai digemari, tapi masih terbatas orang-orangnya, karena kendala praktis dan kendala kesibukan dan tanggung jawab sosial. Kajian antropologi Islam (misalnya pendekatan Islam sebagai discursive tradition Talal Asad) mulai diminati. Sejarah Islam juga melihat banyak aspek sejarah lokal Muslim Indonesia. Kajian perbandingan agama juga cukup menjanjikan: tulisan-tulisan mengenai hubungan antar agama dan seterusnya. Kajian-kajian yang empiris cukup diminati kalangan mahasiswa dan para dosennya.

Yang menarik di UIN sekarang adalah penamaan jurusan dengan Ushuluddin dan Filsafat dimaksudkan untuk terjadinya dialog antara agama dan filsafat (Timur, barat), Dakwah dan Komunikasi juga demikian, Tarbiiyya dan Pendidikan, Syariah dan Hukum; Adab dan Sastra, dan seterusnya. Revisi ini semua secara simbolik komitmen untuk senantiasa berdialog antara tradisi keilmuan Islam Arab dan tradisi keilmuan Barat. Saya kira, secara metodologis, UIN mengarah pada sintesis keilmuan yang kreatif, merangkul otentisitas dan modernitas sekaligus, memeluk tradisi dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Ketiga, dari segi produk, seperti jurnal ilmiyah, dalam 5 tahun terakhir, ada perkembangan yang cukup pesat. Hampir setiap jurusan, jika tidak fakultas di UIN Jakarta, dan UIN-UIN lain, ada jurnal ilmiyah. Kajian-kajiannya juga cukup beragam, dan cukup menjanjikan. Tapi sekali lagi, sumber-sumber teoritis dan metodologis masih kurang. Buku-buku terjemahan memang bermanfaat, tapi sumber-sumber teoritis dan metodologis dari buku-buku terjemahan menyisakan persoalan kredibilitas dan kurangnya kepercayaan diri. Jurnal-jurnal ilmiyah yang ada juga dalam beberapa bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Jurnal-jurnal ilmiyah yang ada tentu saja melalui proses seleksi (meskipun sebagian besarnya peer-review; untuk Studi Islamika silahkan para editor menanggapi). Dari segi kuantitas cukup menjanjikan; tapi dari segi kualitas, potensi pengembangan kreatif semakin besar. Saya kira pasca-sarjana UIN adalah pusat kajian Islam yang paling strategis.

Keempat, saya kira penting membandingkan kajian Islam di Indonesia dan kajian Islam di Barat (khususnya di AS dan di Inggris), meskipun memiliki dinamikanya sendiri, bisa dijadikan kerangka menilai kajian Islam Indonesia. Secara singkat begini. Kajian Islam di Indonesia ternyata lebih multikultural dibandingkan dengan kajian Islam di AS. Maksud saya, banyak sarjana Islam di AS mengabaikan wacana kajian Islam di dunia Islam, baik di Arab, maupun di wilayah lain seperti Asia Tenggara.

Banyak sarjana Islam Indonesia lebih fasih mengikuti perkembangan keilmuan di Arab dan di Barat, ketimbang sebaliknya. Di jurusan Islamic and Middle Eastern Studies di Edinburgh misalnya, sarjana Arabicist dan Islamicist cukup banyak merujuk kitab-kitab klasik untuk kajian-kajian tekstual. Sarjana ulum al-Qur'an di sana merujuk banyak kitab-kitab ulum -AlQur'an dan tafsir. Ahli sejarah Islam seperti Carole Hillenbrand merujuk kitab-kitab Arab abad pertengahan, seperti karyanya the Crusadesfrom an Islamic Perspective. Richard Bell and muridnya Montgomery Watt menulis karya-karyanya yang komprehensif berdasarkan kitab-kitab Arab. Karyanya tentang Al-Ghazali, dan teologi Islam misalnya bersumberkan karya-karya Arab. Tapi sarjana-sarjana yunior masih kurang apresiasi terhadap karya-karya luar. Pertama, karya-karya sarjana Islamis dan Arabis kontemporer memang kurang merespons dan kurang berdialog dengan karya-karya kontemporer di dunia Arab.

Di AS, setidaknya pada Konferensi American Academy of Religion beberapa waktu lalu, kajian Islam di Asia Tenggara, kurang mendapatkan tempat dibandingkan dengan kajian-kajian Islam kontemporer di Amerika yang lebih terfokus pada topik-topik ras, jender, demokrasi, selain Rumi, Ghazali, Ibn Arabi, Shafii, dan sebagainya. Metodologinya cukup beragam, namun Islam Asia Tenggara, yang penganutnya terbesar di dunia, masih dianggap marginal, karena berbagai faktor (bahasa, budaya, geografi, dst). Di sisi lain kajian Islam di Arabkurang membaca kajian-kajian Islam Barat dan apalagi Indonesia.

Dalam percakapan kami tentang studi Islam di AS, ada usulan bahwa karya-karya Islam di Barat diterjemahkan kedalam bahasa Arab, sehingga bisa diakses intelektual Arab sana. Sarjana-sarjana Islam di dunia Arab seharusnya juga mengakses karya-karya Islam di Barat dengan cara memperkuat bahasa Inggris, Perancis, atau Jerman mereka. Jadi, problem kurangnya dialog antar "peradaban" harus terjadi di semua bagian: di Barat dan di Timur pula. Tentu saja kita tahu kategori Timur-Barat ini semata-mata demografik, meskipun ada pula perbedaan2nya. Azyumardi Azra pernah mengingatkan saya untuk terus mengembangkan studi komparatif Timur Tengah dan Asia Tenggara karena memang sangat langka saat ini, baik di TimTeng maupun di Asteng. Di Indonesia saja, meskipun sudah ada ketertarikan, pakar yang memiliki keterampilan komparatif itu dapat dihitung dengan jari.

Kedepan, arah kajian Islam di Indonesia khususnya dan dimanapun, harus lebih cross-cultural, cross-continental, cross-linguistic, dan bahkan cross-generational. Yang terakhir ini, cross-generational, juga masih langka, dalam arti debat dan dialog dengan generasi-generasi klasik, pertengahan, dan baru. Mereka yang fokus pada topik-topik kontemporer (Antropologi, political science, sociology, misalnya), tentu saja merasa tidak perlu atau sulit mengakses karya-karya klasik dan pertengahan di dunia Arab, selain bahwa bidang-bidang ini tidak berkembang di dunia Arab. Topik kajian dan periode kajian juga menentukan metodologi apa yang paling pas digunakan, namun dialog metodologis saya kira hal yang penting dan strategis sehingga ilmu pengetahuan bisa lebih "universal", bukan cuma milik dan untuk kampus-kampus atau negeri-negeri tertentu saja.

Wednesday, July 7, 2010

Should we go to the West to study Islam?

The Jakarta Post | Thu, 07/08/2010 5:09 PM | Opinion

Saturday, July 3, 2010

Two Failed Efforts at Muslim-Bashing

James Zogby

Posted: July 3, 2010 10:08 AM

Two Failed Efforts at Muslim-Bashing

Two separate incidents of Muslim-bashing occurred last week. Because they involved comments by prominent individuals and were so brazen, they caused some concern. But because neither resulted in any benefit to the offenders, only embarrassed silence or scorn, there is some hope that we may be turning a corner.

The first of these came from Senator Jeff Sessions (Mississippi), the Republican Party's point person in their effort to defeat President Obama's nominee for the Supreme Court, Elena Kagan. One of the GOP's arguments against Kagan was her refusal, as Dean of the Harvard Law School, to allow US military recruiters to publicly recruit on campus because she opposed the military's "don't ask, don't tell" policy toward gay soldiers and sailors.

In making his case against Kagan, Sessions charged that the nominee was "less morally principled... than has been portrayed", noting that at the same time that she was taking this stand "Harvard University accepted $20 million from a member of the Saudi royal family to establish a Center for Islamic Studies and Shariah Law." Sessions goes on to argue that "Under Shariah... sexual activity between two persons of the same gender is punishable by death or flogging." He concludes that "Ms. Kagan was perfectly willing to obstruct the military which has liberated countless Muslims from the tyranny of Saddam and the Taliban, but it seems that she was willing to sit on the sidelines as Harvard created a center funded by - and dedicated to - foreign leaders presiding over a legal system that would violate what would appear to be her position".

One could, of course, rebut the Senator's fatuous charge by noting that Kagan had nothing to do with setting up the Center, in question, or by noting that the Center is called "Islamic Studies" (and does not mention "Shariah Law"), but these arguments miss the point and that is that Sessions was Muslim-baiting, plain and simple. Fishing for a way to taint Kagan, he threw "Saudi money", and "Shariah" at her hoping it would catch. It did not.

With the exception of a few obsessed Islamophobic bloggers, most everyone ignored Sessions' line of attack, causing the Senator, himself, to drop it altogether.

It is also worth noting that one of the prospective witnesses that Republicans had listed to appear at the hearing to testify against Kagan was former Bush Administration official, Lt. General William Boykin. Boykin, it will be recalled, was the subject of controversy in 2003 after he made a number of anti-Muslim comments. Reconsidering, the Republicans dropped Boykin from their list.

The second display of bigotry came from Jeff Greene, a candidate competing in the Democratic primary for Senator from Florida. Greene was quoted in a Washington Post feature article saying that the Quran contains, "all kinds of crazy stuff. And unfortunately that's motivating a lot of these extremists."

When challenged by a Florida newspaper, Greene's campaign responded, insisting that he was quoted out of context. However, reviewing Greene's complete remarks only further put his ignorance on display, particularly when one considers the question posed to him. [What follows is the transcript]

Question: "I don't know what's going on in the Muslim world. They are scaring me very much. Over in Europe, there are Muslims taking over the population. Here in America, they talk about building a mosque at the scene of the Twin Towers. What is your take on what's going on, really, and what can be done if there is a bigger problem?"

Greene's answer: "I'm not an expert on Muslims. It is my understanding that there are 1.2 billion Muslims, and that about 200 million of them are pretty devout followers of parts of the Quran. Parts of it that say something like, everyone has a chance to accept Allah and Muhammad's teachings, and if they don't the infidels must be killed, there's all kinds of this crazy stuff. I think, unfortunately, that's motivating extremists. Most Muslims are like everyone else in the world -- they want peace. But there are people that follow some of those crazy teachings, you know, the suicide bombers. It's a scary world out there. I believe what I read in the media, and I'm scared, and I'm scared for the world, and I'm scared for America, and that's why I'm running for office. Like I said earlier, we have to make our enemies tremble. We have to stand by our friends, be they Europeans or Israel or anywhere, and not let these extremists do anything to destroy the wonderful lives we've created for ourselves."

Of course, the only part of Greene's answer that makes sense is his acknowledgment that "I'm not an expert on Muslims." The rest is a crude caricature of the Quran and the faith of more than a billion people -- and a missed opportunity to educate a prejudiced questioner. The bad news is that Greene had his McCain moment [when a voter accused President Obama of being an "Arab" during a campaign rally in the 2008 presidential race, McCain responded by saying "No, ma'am. He is a decent family man"] and blew it, failing to challenge the bigotry implied in the question. The good news is that Greene's bizarre comments were greeted with derision and evidence that he is not ready to be a serious candidate.

The news of the week then, is that two efforts at Muslim-bashing were tried, and both failed. Cause for concern, yes. But cause for some hope as well.

http://www.huffingtonpost.com/james-zogby/two-failed-efforts-at-mus_b_634676.html?view=print