Saturday, August 3, 2019

Transformasi Trikotomi Geertz

Transformasi Trikotomi Geertz

Khoirul Fata [] Peneliti IJIR; Sedang Menempuh Program Pascasarjana Jurusan Sosiologi, Universita Airlangga []
Khoirul Fata [] Peneliti IJIR; Sedang Menempuh Program Pascasarjana Jurusan Sosiologi, Universitas Airlangga []
Trikotomi Clifford Geertz terus mendapat perhatian sejak dipublikasikan melalui buku legendarisnya, the Religion of Java (1960). Para Ilmuwan kerap menjadikan trikotomi Geertz sebagai acuan mendasar dalam memahami masyarakat Jawa.
Rekam jejak ilmuwan yang mengacu Trikotomi Geertz dideskripsikan secara lengkap oleh Najib Burhani dalam tulisannya berjudul “Geert’z Trichotomy of Abangan, Santri, and Priyayi: Controversy and Continuity”  yang dimuat di Journal of Indonesian Islam Vol. 11 No. 02 (2017). Tulisan ini merupakan review atas karya tersebut.
Tulisan Najib Burhani memberikan informasi bahwa trikotomi Geertz sudah mendapat  kritik dari berbagai ilmuwan. Menurut Najib, kritik pertama adalah menempatkan priyayi dalam kategori religius merupakan suatu kesalahan.
Priyayi dalam kacamata Sutherland and Harja Bachtiar, masuk dalam kategori kelas sosial. Ia berfungsi sebagai “broker” yang memediasi budaya dan menjadi agen dari pemerintahan di zamannya. Selain itu ilmuwan asal Jepang Mitsuo Nakamura juga memberi penjelasan lebih jauh bahwa seorang santri bisa menjadi priyayi pada saat bersamaan, dan begitupun sebaliknya. Hal ini didasarkan pada fenomena keagamaan yang berkembang di Muhammadiyah Jogjakarta.
Kritik kedua menitikberatkan pada pemahaman abangan dan kejawen. Kritik dilontarkan oleh ilmuwan seperti Robert W. Hefner, Koentjaraningrat, Andrew Beatty dan Mark. R. Woodward.
Abangan dalam pandangan Hefner tidak memiliki kesesuaian dengan varian animistik kepercayaan orang Jawa. Alih-alih senang disebut abangan, masyarakat Jawa yang masih memegang kepercayaan animistik justru lebih suka disebut kejawen atau jawa tulen (berdasarkan penelitian Hefner di Tengger).
Inilah titik berangkat Hefner dalam mengkritik istilah abangan yang dideskripsikan oleh Geertz. Sementara itu, Koentjaraningrat menitikberatkan pada perbedaan “Agama Jawi” dan “Agama Islam Santri”. Perbedaan tersebut menjelaskan bahwa terdapat varian Islam sinkretis dan Islam ortodoks atau puritan. Koentjaraningrat mengasumsikan bahwa masyarakat Jawa secara keseluruhan beragama Islam, meski dengan varian yang berbeda-beda.
Dalam pandangan lain, Andrew Beatty mengkiritik bahwa varian abangan-santri tidak selalu dalam nuansa oposisi. Keduanya merupakan kategori yang blur. Oleh karena itu, dua varian tersebut dengan mudah bisa bertukar satu sama lain. Sementara kritik Mark R. Woodward terhadap pemahaman Geertz adalah berkaitan dengan struktur kepercayaan orang Jawa.
Bagi Geertz elemen mendasar yang membentuk kepercayaan orang Jawa berasal dari pra-Hindu, Hinduisme dan Buddhisme. Sementara Islam hanya berada dalam posisi surface culture atau budaya permukaan saja. Ia menganggap bahwa Islam menjadi elemen mendasar dalam struktur kepercayaan orang Jawa. Karena hal tersebut, ia tidak sepakat abangan selalu bermusuhan dengan santri. Bagi Woodward, abanganmerupakan bagian Islam Jawa dan juga mistik kejawen.
Dalam kritik ketiga Najib melihat bahwa trikotomi Geertz tidak memiliki batasan yang rigid. Pada bagian ini, Najib Burhani memaparkan uraian Andrew Beatty yang meneliti masyarakat Blambangan. Beatty mengilustrasikan betapa orang-orang Jawa dari berbagai latar belakang kepercayaan campur baur dalam ritual slametan.
Dalam ritual inilah identitas kultural Jawa seperti abangan-santri-priyayi menjadi blur. Kritik serupa dilakukan dalam review Harja Bachtiar yang menganggap Geertz terlalu menyimplifikasi saat mengatakan slametan merupakan core dari ritual abangan. Pada faktanya, santri maupun priyayi juga melakukan ritual slametan. Inilah yang menjadikan trikotomi Geertz menjadi tidak jelas batasnya.
Selain itu, perlu dicatat bahwa meski trikotomi Geertz kerap mendapatkan kritik, tapi gagasan tersebut masih diterima sebagai prinsip dasar studi dalam masyarakat Indonesia. Najib mengatakan “His concept is not only used in religous, anthropological and sociological studies, but also in history and political science.” 
Trikotomi Geertz dengan begitu memungkinkan untuk masuk pada berbagai area disiplin ilmu. Seperti perbedaan abangan, santri dan priyayi bisa digunakan untuk mengidentifikasi tingkah laku pemilih dan kecenderungan partai politik. Najib menjelaskan penelitian yang menggunakan trikotomi Geertz pada momen-momen politik Orde Lama, Orde Baru hingga Reformasi.
Sampai sini, saya beranggapan bahwa Najib Burhani berhasil menggambarkan kedigdayaan teori Geertz sehingga menjadi pondasi dasar untuk memahami orang Jawa, sekaligus dinamika politik Indonesia kontemporer. Trikotomi Geertz, meminjam istilah Pramoedya, telah menjadi anak ilmu pengetahuan yang usianya sangat panjang. Ia hadir dan terus dibicarakan. Ia terus dikritik dan evaluasi namun nasibnya tidak pernah berubah, akan selalu abadi dari zaman ke zaman. []
http://blog.iain-tulungagung.ac.id/pkij/2019/07/31/transformasi-trikotomi-geertz/